Ducati Makin Tegas di MotoGP, Dominasi dan Inovasi di Lintasan

jafea.net – Ducati, merek asal Italia yang identik dengan kecepatan dan teknologi canggih, terus menegaskan supremasinya di ajang balap motor paling bergengsi, MotoGP. Dengan motor Desmosedici yang menjadi tulang punggung, Ducati tidak hanya unggul dalam hal kecepatan, tetapi juga menunjukkan performa luar biasa di berbagai aspek balapan.

Sejarah Singkat Ducati di MotoGP

Ducati memulai kiprahnya di MotoGP pada 2003 dengan motor Desmosedici, yang namanya berasal dari teknologi katup Desmodromic dengan 16 katup (sedici dalam bahasa Italia). Meski awalnya menghadapi tantangan seperti sulitnya mengendalikan motor bertenaga besar, Ducati mencatatkan sejarah gemilang pada 2007 ketika Casey Stoner membawa Desmosedici GP7 meraih gelar juara dunia. Sejak itu, Ducati terus berbenah, terutama setelah kehadiran insinyur berbakat Luigi Dall’Igna pada 2014, yang membawa perubahan signifikan dalam desain dan performa motor.

Dominasi Kecepatan dan Teknologi

Salah satu keunggulan utama Ducati adalah kecepatan puncak (top speed) yang luar biasa. Pada MotoGP Qatar 2021, Johann Zarco (Pramac Racing) mencatatkan kecepatan 362,4 km/jam, rekor tertinggi di era MotoGP 1000cc. Tidak hanya Zarco, pebalap seperti Jorge Martin, Jack Miller, dan Andrea Dovizioso juga kerap mendominasi daftar top speed, menjadikan Ducati sebagai motor tercepat di lintasan lurus.

Keunggulan ini berasal dari mesin V4 dengan teknologi Desmodromic, yang memungkinkan efisiensi tenaga maksimal. Selain itu, Ducati terus berinovasi dengan aerodinamika canggih dan rangka aluminium twin-spar yang mulai digunakan sejak 2016, menggantikan rangka trellis yang kurang kompetitif. Perubahan ini membuat Desmosedici tidak hanya kencang di lintasan lurus, tetapi juga lincah di tikungan, menjawab kritik lama bahwa motor Ducati sulit bermanuver.

Performa Pebalap dan Tim yang Solid

Ducati tidak hanya mengandalkan mesin, tetapi juga strategi tim yang kuat. Dengan empat tim di grid MotoGP 2023 (Ducati Lenovo, Pramac Racing, Gresini Racing, dan VR46 Racing), Ducati memiliki delapan pebalap yang mampu bersaing di barisan depan. Francesco Bagnaia, juara dunia 2022 dan 2024, menjadi ujung tombak tim pabrikan, sementara Marc Marquez, yang bergabung dengan Gresini pada 2024 dan kini di tim pabrikan untuk 2025, menambah kekuatan dengan pengalaman dan agresivitasnya.

Pada musim 2023, tujuh dari delapan pebalap Ducati berhasil naik podium, menunjukkan konsistensi dan kedalaman skuad mereka. Kemenangan Jorge Martin di Sprint Race Indonesia dan Johann Zarco di Australia membantu Ducati memecahkan rekor kemenangan terbanyak dalam satu musim (13 kemenangan), mendekati rekor Honda dengan 15 kemenangan.

Musim 2025: Spesifikasi Mesin yang Berbeda

Untuk musim 2025, Ducati tetap menggunakan mesin Desmosedici GP24, tetapi dengan pendekatan baru. Francesco Bagnaia, Marc Marquez, dan Fabio Di Giannantonio (VR46) menggunakan mesin dengan pembaruan kecil berdasarkan masukan dari tes pramusim di Sepang, Malaysia. Sementara itu, pebalap tim satelit seperti Alex Marquez, Franco Morbidelli, dan Fermin Aldeguer menggunakan spesifikasi standar. Strategi ini menunjukkan fleksibilitas Ducati dalam mengoptimalkan performa sesuai kebutuhan pebalap utama, sekaligus menjaga daya saing tim satelit.

Tantangan dan Kritik

Meski dominan, Ducati menghadapi kritik karena jumlah tim dan pebalapnya yang besar, yang dianggap membuat MotoGP mirip “one-make race”. CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, menyoroti bahwa delapan motor Ducati di grid memberikan keuntungan data dan pengembangan yang tidak dimiliki pabrikan lain seperti Yamaha, Honda, atau Aprilia. Namun, Ducati berdalih bahwa mereka hanya mengisi kekosongan tim yang ditolak pabrikan lain, seperti VR46 Racing.

Selain itu, meski motor Ducati kini hampir sempurna dalam hal kecepatan, pengereman, dan manuver, pebalap seperti Miguel Oliveira dari Aprilia menyebut bahwa Ducati masih memiliki kelemahan yang tersembunyi dengan baik. Menemukan dan mengeksploitasi kelemahan ini menjadi tantangan bagi kompetitor.

Dukungan Sponsor dan Branding

Dominasi Ducati juga didukung oleh sponsor besar seperti Aspira, yang bermitra dengan tim Gresini sejak 2023. Livery baru untuk musim 2025, dengan kombinasi warna merah ikonik dan aksen hitam, memperkuat citra Ducati sebagai merek yang kuat dan modern. Sponsor ini tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga memperluas jangkauan Ducati di pasar global.

Masa Depan Ducati di MotoGP

Dengan performa impresif di lintasan, inovasi teknologi, dan skuad pebalap yang kompetitif, Ducati tampaknya akan terus mendominasi MotoGP. Kehadiran Marc Marquez di tim pabrikan pada 2025 menjanjikan persaingan internal yang sengit dengan Francesco Bagnaia, sekaligus peluang untuk mempertahankan gelar juara dunia. Namun, Ducati juga harus menghadapi tekanan dari regulasi MotoGP yang mungkin membatasi jumlah tim per pabrikan, serta persaingan ketat dari Aprilia dan KTM yang terus berkembang.

Ducati telah menjelma menjadi kekuatan yang tak terbendung di MotoGP, menggabungkan kecepatan, teknologi, dan strategi tim yang solid. Dari rekor top speed hingga kemenangan beruntun, Desmosedici telah membuktikan diri sebagai motor yang ditakuti. Dengan dukungan pebalap berbakat dan inovasi tanpa henti, Ducati tidak hanya tegas di lintasan, tetapi juga menjadi tolok ukur baru dalam dunia balap motor. Musim 2025 akan menjadi panggung untuk melihat apakah Ducati bisa mempertahankan dominasinya atau menghadapi tantangan baru dari para rival.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *