Mengenal PPMKI, Komunitas Penggemar Mobil Kuno Indonesia

jafea.net – Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) adalah komunitas tertua di Indonesia yang berdedikasi untuk melestarikan dan mempromosikan mobil klasik dan vintage. Berdiri sejak 13 November 1979, PPMKI telah menjadi wadah bagi para penggemar otomotif untuk berbagi kecintaan terhadap mobil kuno, sekaligus menjaga warisan budaya otomotif Indonesia. Dengan anggota yang tersebar di berbagai provinsi, PPMKI tidak hanya menjadi komunitas hobi, tetapi juga duta budaya yang memperkenalkan nilai sejarah mobil kuno di dalam dan luar negeri.

Sejarah Berdirinya PPMKI

PPMKI didirikan pada 13 November 1979 oleh sekelompok penggemar mobil kuno, termasuk tokoh seperti Imam Effendi, yang dikenal sebagai salah satu sesepuh organisasi ini. Berawal dari semangat untuk melestarikan mobil-mobil bersejarah, PPMKI awalnya berfokus pada mobil produksi sebelum tahun 1970-an, seperti Jaguar XK Cabrio 1952, Buick 1937, Ford Thunderbird Cabrio 1956, dan bahkan mobil kepresidenan seperti Chrysler Imperial Crown yang digunakan Presiden Soekarno pada 1960. Mobil-mobil ini tidak hanya bernilai koleksi, tetapi juga menyimpan cerita sejarah Indonesia, termasuk peran mereka dalam masa kemerdekaan.

Pada masa awal, PPMKI menghadapi tantangan seperti keterbatasan akses suku cadang dan regulasi impor mobil. Namun, semangat para anggota untuk merestorasi dan merawat mobil kuno membuat komunitas ini terus berkembang. Hingga 2025, PPMKI telah berusia 46 tahun dan tetap menjadi organisasi otomotif klasik terbesar di Indonesia, dengan cabang di berbagai daerah seperti DKI Jakarta, Bali, Sulawesi Selatan, dan lainnya.

Tujuan dan Filosofi PPMKI

PPMKI memiliki visi untuk melestarikan mobil kuno sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah. Salah satu falsafah pendiri PPMKI, Solihin GP, yang masih dipegang teguh adalah, “Manusia itu tidak boleh konsumtif, harus produktif. Lihat barang rusak itu dibetulin, jangan dibuang.” Filosofi ini mendorong anggota untuk merestorasi mobil kuno ketimbang hanya mengoleksi, menjadikan PPMKI bukan sekadar komunitas hobi, tetapi juga gerakan pelestarian.

Selain pelestarian, PPMKI bertujuan untuk:

  • Memperkenalkan mobil kuno kepada generasi muda melalui kampanye seperti Classic for The Young Generation.

  • Mempromosikan pariwisata dan diplomasi budaya melalui kegiatan seperti Heritage Auto Tourism, yang menggabungkan turing mobil klasik dengan eksplorasi destinasi budaya Indonesia.

  • Membangun komunitas inklusif yang terbuka bagi siapa saja yang menyukai mobil kuno, tanpa harus memiliki mobil klasik.

Kegiatan dan Kontribusi PPMKI

PPMKI dikenal dengan berbagai kegiatan yang memperkuat komunitas dan memperkenalkan mobil kuno kepada publik. Beberapa kegiatan utama meliputi:

  • Turing dan Konvoi: PPMKI sering mengadakan turing jarak jauh, seperti perjalanan ke Kilometer Nol Sabang pada 2017 yang diikuti 38 mobil. Kegiatan ini tidak hanya mempererat kebersamaan anggota, tetapi juga memamerkan ketangguhan mobil kuno.

  • Kontes Mobil Klasik: Acara seperti Classic for The Young Generation di Maxxbox Lippo Village, Tangerang (2018), menampilkan mobil-mobil bersejarah seperti Buick 1937, yang pernah digunakan panglima tentara Jepang pada 1947 dan Presiden Soekarno. Kontes ini juga menjadi ajang edukasi bagi generasi muda.

  • Pameran Otomotif: PPMKI aktif berpartisipasi dalam pameran otomotif nasional, seperti GIIAS, untuk memamerkan koleksi mobil anggota, mulai dari Mercedes-Benz 320B 1937 hingga Toyota Corolla era 1980-an.

  • Peluncuran Platform Digital: Pada ulang tahun ke-41 di 2020, PPMKI meluncurkan situs web (ppmki.id) dan aplikasi mobile yang memungkinkan pendaftaran anggota secara online serta berbagi informasi tentang kegiatan dan restorasi mobil. Platform ini memudahkan anggota dari berbagai daerah untuk terhubung.

Perkembangan dan Inklusivitas

Awalnya, PPMKI hanya menerima mobil produksi sebelum 1977 (dihitung berdasarkan usia minimal 40 tahun pada 2018). Namun, sejak 2018, PPMKI membuka keanggotaan untuk mobil era 1980-an dan 1990-an awal, seperti Mitsubishi Galant, Lancer, Mercedes-Benz Tiger, dan Toyota Splinter. Langkah ini diambil untuk menarik generasi muda yang memiliki minat pada mobil retro, tetapi terkendala biaya memiliki mobil klasik yang lebih tua. Ketua PPMKI DKI Jakarta pada 2018, Cecil Silanu, menegaskan bahwa tujuannya adalah menghilangkan kesenjangan antargenerasi dan memperluas kecintaan terhadap mobil kuno.

Pada 2024, di bawah kepemimpinan baru Jos Dharmawan (Ketua Umum PPMKI 2024–2028), komunitas ini mengambil langkah besar untuk mendunia. Jos, yang terpilih pada Musyawarah Nasional ke-14 di Bali, memperkenalkan inisiatif Heritage Auto Tourism, menggabungkan turing mobil klasik dengan promosi destinasi budaya seperti Desa Penglipuran dan Geopark Kintamani. Ia juga menekankan peran mobil kuno sebagai duta budaya Indonesia di kancah internasional, didukung oleh sinergi dengan pihak seperti Bikini Garage Bali dan tokoh seperti Roy Suryo.

Keanggotaan dan Komunitas

PPMKI memiliki ratusan anggota aktif di Jakarta dan ribuan di seluruh Indonesia, dengan cabang di berbagai provinsi, termasuk Sulawesi Selatan yang resmi terbentuk pada 2021. Keanggotaan terbuka bagi siapa saja yang menyukai mobil kuno, tanpa syarat kepemilikan mobil. Haryo Girisagoro, pengurus PPMKI DKI Jakarta, pernah menyatakan, “Masuk PPMKI tidak harus punya mobil, yang penting suka aja silakan gabung.” Pendekatan inklusif ini telah memperluas basis anggota, termasuk anak muda yang mulai merestorasi mobil retro.

Komunitas ini juga didukung oleh tokoh-tokoh otomotif terkemuka seperti Anton Suleiman, Hauwke Setjodiningrat, dan Ruby Alamsyah, yang memimpin pengembangan platform digital PPMKI. Acara pelantikan pengurus, seperti untuk masa bakti 2021–2024 di Sentul, menunjukkan komitmen PPMKI untuk tetap relevan dengan mengadopsi teknologi dan protokol kesehatan selama pandemi.

Mobil Ikonik dalam PPMKI

PPMKI dikenal dengan koleksi mobil bersejarah, termasuk:

  • Buick 1937: Mobil tertua dalam kontes PPMKI 2018, pernah digunakan panglima tentara Jepang pada 1947 dan Presiden Soekarno.

  • Cadillac Fleetwood 75 Limousine: Kendaraan dinas terakhir Presiden Soekarno.

  • Morris Minor Traveler 100: Digunakan sebagai oplet di Jakarta hingga 1980-an.

  • Chrysler Imperial Crown: Mobil kepresidenan Soekarno pada 1960.

Mobil-mobil ini tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga menunjukkan dedikasi anggota dalam merestorasi dan merawat kendaraan agar tetap berfungsi, meskipun berusia puluhan tahun.

Tantangan dan Masa Depan

PPMKI menghadapi tantangan seperti biaya perawatan mobil kuno yang tinggi dan regulasi impor suku cadang. Sebelum 1970, mobil impor bebas masuk Indonesia, tetapi setelahnya, aturan ketat membatasi mobil setir kiri dari negara seperti Amerika Serikat. Namun, sejak 2000, kebijakan impor personal yang lebih longgar telah membantu anggota mendapatkan suku cadang.

Ke depan, PPMKI berambisi menjadi ikon otomotif global. Dengan kepemimpinan Jos Dharmawan dan dukungan dari komunitas seperti Bikini Garage Bali, PPMKI berencana mempromosikan mobil kuno sebagai bagian dari pariwisata dan diplomasi budaya. Program seperti Heritage Auto Tourism diharapkan dapat menarik perhatian dunia, sekaligus mengedukasi generasi muda tentang nilai sejarah otomotif Indonesia.

PPMKI adalah lebih dari sekadar komunitas penggemar mobil kuno; ini adalah gerakan pelestarian budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Dengan sejarah panjang sejak 1979, kegiatan inklusif, dan visi mendunia, PPMKI terus menginspirasi generasi baru untuk mencintai dan melestarikan mobil kuno. Dari turing hingga kontes, dari mobil kepresidenan hingga platform digital, PPMKI membuktikan bahwa mobil kuno bukan hanya kendaraan, tetapi juga warisan budaya yang hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *